Archive for Mei, 2010


Banyak Jalan Menuju Derma

Manusia itu makhluk sosial katanya, oleh karena itu sudah sewajarnya memberikan sesuatu yang berarti bagi masyarakat, misalnya dengan berderma atau bakti sosial istilah canggihnya, membantu orang-orang yang membutuhkan dengan cara kita masing-masing. Mulai dari yang skala pribadi dan sederhana sampai yang sifatnya kelompok dan kolosal, dengan metode yang berbeda-beda pula.

Cara berderma apa yang ada dalam pikiran saya?

Hmm, karena minim materi, mungkin saya cuma bisa berderma dalam bentuk waktu dan tenaga serta mengacu pada kemampuan yang saya miliki, yang oleh orang-orang di sekitar saya disebut-sebut sebagai kekuatan dementor.

Jadi, ANDAI nantinya saya sudah lebih dikenal orang, dan blog ini sudah punya lebih banyak penikmat atau pembencinya, maka saya akan berderma dengan cara menjadi teman mengopi-obrol bagi mereka yang merasa hidupnya terlalu bahagia dan terang sehingga membutuhkan second opinion, istilah komersilnya: “DEMENTING FOR CHARITY OVER A CUP OF COFFEE”.

Teman mabuk-mabukan mudah dicari, tapi teman sepengobrolan kopi itu sangat sulit ditemukan. Bukankah begitu?

Mungkin saya akan bekerjasama dengan kelompok pelindung anak misalnya, bagi yang memerlukan jasa dementing, cukup menunjukkan bukti telah berderma kepada kelompok yang bersangkutan, maka sudah boleh mengatur janji untuk ngobrol di warung kopi.

Topik obrolan boleh macam-macam, silakan saja bicara politik, sara, pornografi (asalkan jangan ditambah colak-colek, karena saya bukan sabun B-29!), dan sebagainya; mau curhat juga oke, mau mengetes juga boleh; cuma jangan heran atau marah kalau misalnya dalam proses mengobrol itu terjadi:

  1. Saya menangis tersedu-sedu karena kalah debat atau kalah cerdas dengan Anda.
  2. Anda ilfil, atau saya yang ilfil.
  3. Dunia Anda mendadak gelap, mungkin karena kesadaran oleh buah mengobrol yang mengakibatkan himpitan kenyataan pahit, atau mungkin juga karena mug kopi di tangan saya telah melayang dan bersarang di jidat Anda.
  4. Suasana mendadak basi, karena Anda atau saya mendadak mulas ingin beol misalnya, sehingga terjadi ejakulasi dini, bubar sebelum satu cangkir kopi habis.
  5. Obrolan tidak menyambung, misalnya saya berbahasa Mandarin, sementara Anda berbahasa Sunda halus; atau bisa juga karena Anda berbahasa profesor, sementara saya berbahasa mahasiswa kuper.
  6. Saya merenggut perangkat BB/iPhone Anda lalu membantingnya, karena Anda ternyata lebih tertarik bermain gadget daripada mengobrol sesuai aturan main.

Nah, nanti saya akan mencari fotografer yang bisa menangkap bayangan terganteng dari sosok saya, plus menulis CV yang paling indah untuk dipampangkan di blog ini, saking indahnya sehingga bahkan sanggup membuat pemberi kerja amal/komersil mana pun menggelepar haru.

Tunggu tanggal mainnya!

Yang penting kan derma!

Supperrr!

Tertarik? Silakan tinggalkan komentar.

Setelah cukup lama memanfatkan transportasi umum Kopaja, ada beberapa hal khusus yang tercatat dalam pikiran, antara lain:

1. Pilih tempat duduk/berdiri di dekat sopir.

Kalau memang memungkinkan, pilih tempat duduk/berdiri yang agak di depan. Penumpang yang berada di belakang  rawan sekali menjadi sasaran kejahatan.

Logikanya, sopir itu bertanggungjawab terhadap keselamatan penumpang, copet atau berandalan pasti sedikit banyak juga mempertimbangkan hal itu.

Katakanlah sopirnya tidak peduli, tapi paling tidak ada sekian pasang mata penumpang lain yang sedang melihat ke depan dan membuat copet agak jengah beraksi. Coba, mana ada “mata pengawas” yang “melindungi” jika Anda  berada di bangku paling belakang?

2. Pakai earphone, dengarkan musik sambil meningkatkan waspada, jangan tidur.

Kondisikan agar suara musik di telinga menghadang suara dari luar, tapi menciptakan suatu ruang  ketenangan bagi mata untuk mengamati situasi, sehingga seolah ada dunia sendiri untuk berpikir dengan bebas. Jadi, bukan sekadar dengar musik lalu terhanyut lupa keadaan.

Mengapa? Karena biasanya komplotan copet beraksi dengan cara mengacaukan perhatian korban. Mulai dari pura-pura mengajak mengobrol, pura-pura salah kenal, sampai membuat suara-suara aneh seperti muntah, atau ekstrimnya mendadak seperti gila dan menggertak dengan suara keras. Jika perhatian korban sudah kacau, maka temannya dengan leluasa akan memainkan jari lihai, lenyaplah dompet atau barang berharga lain.

Jadilah seorang paranoid dalam dunia sendiri, karena kopaja bukan tempat bersosialisasi, ke warung kopi saja kalau mau beramah-tamah.

3. Waspadai penumpang baru yang naik berdua atau bertiga.

Mungkin copet, mungkin bukan, tapi sebaiknya langsung tingkatkan kewaspadaan ke level pamungkas. Waspada dahulu lebih baik daripada menyesal tiada guna nanti.

Tapi bukan berarti harus ada kondisi seperti itu baru waspada, karena siapa tahu copet berdua/bertiga itu sudah menjadi penumpang sebelum Anda.

4.  Jaga harta Anda saat turun.

Jepit harta Anda erat-erat, karena pada saat turun itu, mau tak mau perhatian harus tertuju ke tempat Anda mendaratkan kaki, kelengahan sedetik pun bisa menjadi celah bagi copet. Jadi, ingatlah untuk bersikap layaknya naga jahat yang  sedang mencengkram erat pundi emas, jaga dompet/tas Anda saat melompat turun.

—————–

Demikian, jika Anda punya saran atau pendapat lain, silakan tinggalkan komentar.

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.