Agenda nomor satu:
Belajar cara memakai Windows Live Writer.
Pintar-pintarlah menyaring dengan otak anda!
Agenda nomor satu:
Belajar cara memakai Windows Live Writer.
Beberapa hari ini, YM gua menggunakan status message:
Assholes don’t talk, they fart.
Hari ini gua ralat jadi:
Okay okay… Assholes do talk, but still… in fartlish.
Dan si Phoenix High Quality Core dengan nakalnya menambahkan lewat private message:
All I know, asshole stinks.
Hahaha, terlepas dari betapa nggak pentingnya obrolan tentang status message itu, yang jelas sih memang fuckta bahwa banyak assholes di dunia ini.
Literally, masing-masing manusia pastinya punya satu dong, lobang buat keluarin tai gituloh, primal lust.
Tapi secara kiasan, ternyata ada asshole laen, itulah mulut yang gak dijaga.
Bagi gua sih, asshole adalah orang-orang yang gemar main generalisasi secara sembarangan.
Misalnya begini:
Jika ada orang Indonesia yang maling di Malaysia, maka kaum assholes pasti menelurkan tudingan bahwa orang Indonesia itu tukang tilep, semua orang Indonesia dipukul rata sebagai maling , DASAR INDON!! Begitulah wujud tai gelontoran mereka (gak pake tanda kutip).
Nah yang begitu tuh yang gua sebut assholes, tapi ya apa boleh buat kalo assholesnya udah berjamaah dan menegara, negara lain pulak.
Emang busuk sih, tapi ternyata ada lagi lho asshole terbusuk segala busuk, itulah asshole lokal yang mahir berkicau di media, tuding kiri-kanan sembarangan, dan hebatnya oleh media malah dicap sebagai PAKAR.
Pakar apaan?
Entahlah.
Blogger dan hacker itu pinter nge-deface website pemerintah lhoooo, katanyaaaa.
Untunglah gua gak masuk itungan, secara ini cuman blog boongan.
‘Kan boong gak masuk list dosa UU ITE, bener gak.
Hehiaehaiehaihei.
—–
Catatan kaki (bukan dalam mulut):
Believe it or not, blogger lebih pinter ngehek dibanding heker.

Iya, mungkin saya hampir gila.
Sudah cukup lama saya merasa terlalu sering melihat angka kembar di mana-mana. Yang paling sering adalah angka jam digital, mulai dari 1:11, 3:33, dan yang kerap muncul adalah angka 4:44.
Bagi orang cina angka 4 termasuk sial karena lafalnya mirip dengan kata ‘mati’, maka itu lama-lama saya gerah dan mulai bertanya-tanya apakah ini merupakan petanda yang diberikan alam atau hanya perasaan saya saja yang terlalu mengada-ada?
Entahlah, yang jelas logika saya selalu menolak, untuk kasus jam digital misalnya, saya selalu mencoba mereduksi dengan anggapan bahwa dalam sehari saya pasti kerap melihat jam, tentu saja akan fokus pada angka kembar karena penataan pikiran saya sebelumnya memang telah terlanjur tersugesti.
Beberapa menit lalu, iseng-iseng saya melakukan pencarian di google, ternyata saya bukan orang pertama yang mengalami “kegilaan” ini, dan menurut salah satu versi tafsir orang-orang yang mengalami “penampakan angka kembar”, katanya kalau sering melihat angka 444 berarti sedang dikelilingi oleh malaikat penjaga.
Hehehe… entahlah, tapi saya mendadak merasa senang.
Berikut link pencarian yang saya maksud:
Sudah lama sekali saya tidak mampu tertawa saat membaca dialog humor sederhana yang jamak beredar baik di koran, buku TTS atau di internet.
Maklum, efek kota.
Tapi ternyata ada satu humor anak-anak yang masih melekat di otak saya sampai sekarang, saya baca di majalah Bobo sewaktu masih bocah dulu, bercerita tentang dialog lucu antara Guru TK dan murid-muridnya, isinya kira-kira begini:
Bu Guru: Budi, seperti apa bunyi suara kucing?
Budi: MEOOONGGG… Bu Guluuuu.
Bu Guru: Bagus. Ani, kalau kambing bagaimana?
Ani: Mbeeek…
Bu Guru: Pintar. Nah, kalau “Guk guk guk..” bunyi apa anak-anak?
Murid Sekelas: Bu Guruuuuuu *koor*
Lagi-lagi saya membuat blog, padahal bukan blogger, tapi tidak apa-apa lah, hitung-hitung menyalurkan semangat yang baru saja dibubungkan oleh event Pesta Blogger 2007 pada 27 Oktober kemarin.
Sesuai judulnya, blog ini memang hanya buah keisengan yang tidak akan diisi dengan hal-hal yang terlalu fokus atau serius.
Saya hanya akan menulis sesenang dan sekehendak hati.
Semoga langgeng.